Dosen dan mahasiswa Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Seminari Menengah St. Paulus Palembang melalui program bertajuk “Program Penguatan Logika Kalimat, Komunikasi Bahasa Inggris, dan Personal Management Siswa Formasi Akhir Seminari.” Kegiatan ini dilaksanakan dalam tiga pertemuan, yakni pada 18 September, 9 Oktober, dan 23 Oktober 2026.
Program ini dirancang untuk mendukung pengembangan kompetensi siswa formasi akhir seminari, khususnya dalam keterampilan berbahasa, kemampuan berpikir logis melalui penggunaan bahasa, serta kemandirian dalam mengelola waktu, prioritas, dan tanggung jawab. Ketiga aspek tersebut dinilai penting sebagai bekal bagi para siswa dalam memasuki tahap pendidikan dan kehidupan bersama yang menuntut kedewasaan serta kemandirian lebih besar.
Kegiatan PKM ini dipimpin oleh Yohanes Heri Pranoto, S.Pd., M.Pd., dengan melibatkan dosen dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) dan Manajemen UKMC. Tim dosen terdiri atas Yohanes Heri Pranoto, S.Pd., M.Pd.; Anselmus Inharjanto, M.Phil. (ELT); Dr. Florentinus Heru Ismadi, M.M.; Dr. Catharina Clara, S.E., M.Si.; dan Dr. Ega Leovani, S.E., M.M. Pelaksanaan kegiatan juga didukung oleh enam mahasiswa, yaitu Agnes Septi Rahmawati, Sevia Larasati, Kesiah Olivia Fransiska, Amelia Putri, Pricillia Joseph Sen, serta Patricia Putri Nathalie Manurung.

Tiga Sesi untuk Penguatan Kompetensi Siswa
Pertemuan pertama, pada 18 September 2026, berfokus pada materi Personal Management. Selama tiga jam, para siswa diajak memahami dan mempraktikkan penetapan tujuan (goal setting), penyusunan prioritas (priority setting), pengelolaan waktu (time management), perencanaan akademik (academic planning), pengelolaan tanggung jawab (responsibility management), serta pengelolaan diri dalam penggunaan teknologi digital (digital self-management).
Materi disampaikan melalui penilaian diri (self-assessment), studi kasus, penyusunan rencana individual, simulasi, dan refleksi. Pendekatan ini mendorong siswa untuk mengenali kebiasaan mereka, menentukan prioritas secara lebih terarah, serta menyusun langkah konkret dalam mengelola aktivitas akademik dan nonakademik.
Pertemuan kedua, pada 9 Oktober 2026, mengangkat tema English Speaking Skills. Materi meliputi perkenalan diri (self-introduction), percakapan ringan (small talk), meminta dan memberikan informasi, menyampaikan pendapat, bercerita (storytelling), serta melakukan presentasi. Selama tiga jam, siswa berlatih melalui pemodelan, praktik berpasangan dan kelompok, bermain peran (role play), simulasi situasi nyata, serta pemberian umpan balik.
Melalui kegiatan ini, siswa memperoleh kesempatan untuk menggunakan bahasa Inggris dalam konteks komunikasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Praktik yang terarah diharapkan dapat membantu mereka membangun kepercayaan diri, meningkatkan kelancaran berbicara, dan menyampaikan gagasan secara lebih efektif.

Pertemuan ketiga, pada 23 Oktober 2026, berfokus pada materi Logika Kalimat. Siswa mempelajari lima jenis kesalahan umum dalam penyusunan kalimat bahasa Inggris, yaitu sentence fragment, run-on/fused sentence, comma splice, misplaced modifier, dan dangling modifier.
Pembelajaran berlangsung selama tiga jam melalui kuliah singkat (mini lecture), identifikasi kesalahan, perbaikan kalimat, latihan kelompok, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Melalui pendekatan tersebut, siswa diajak tidak hanya mengenali kesalahan tata bahasa, tetapi juga memahami hubungan antargagasan dan menyusun kalimat yang lebih jelas, logis, serta tepat secara struktural.

Menjawab Kebutuhan Nyata Siswa Formasi Akhir Seminari
Menurut Yohanes Heri Pranoto selaku ketua tim PKM, sasaran utama program ini adalah siswa formasi akhir seminari yang sedang dipersiapkan untuk memasuki fase pendidikan dan kehidupan bersama yang lebih mandiri.
“Target utama program ini adalah membantu siswa mengembangkan tiga kompetensi yang saling melengkapi, yaitu kemampuan menyusun kalimat bahasa Inggris secara logis, keterampilan berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan lebih percaya diri, serta kemampuan mengelola waktu, prioritas, tanggung jawab, dan pengembangan diri secara mandiri,” jelas Yohanes.
Ia menambahkan bahwa penguatan ketiga kompetensi tersebut perlu dilakukan melalui pembelajaran yang tidak berhenti pada penyampaian teori, tetapi juga memberikan ruang bagi siswa untuk mencoba, berdiskusi, berlatih, dan merefleksikan pengalaman mereka. Dengan demikian, materi yang diberikan diharapkan dapat diterapkan dalam kegiatan belajar maupun kehidupan sehari-hari di lingkungan seminari.

Respons positif juga disampaikan oleh Benedictus Ramanda Putra, salah satu peserta kegiatan. Ia mengungkapkan bahwa sesi-sesi yang diikuti memberikan penyadaran baru mengenai berbagai hal yang dibutuhkan dalam pengembangan diri.
Menurut Benedictus, kehadiran UKMC dengan materi yang sesuai kebutuhan siswa serta teknik penyampaian yang menarik membuat proses belajar terasa menyenangkan dan relevan. Ia juga menyampaikan harapan agar waktu pelaksanaan dapat diperpanjang sehingga peserta memiliki kesempatan yang lebih leluasa untuk mengajukan pertanyaan dan berdiskusi.
Masukan tersebut menjadi catatan penting bagi pengembangan kegiatan serupa pada masa mendatang, terutama dalam menyediakan ruang interaksi yang lebih luas antara pemateri dan peserta.

Kolaborasi untuk Pendidikan yang Berdampak
Pelaksanaan PKM ini mencerminkan komitmen UKMC dalam mengembangkan tridarma perguruan tinggi, khususnya melalui pengabdian kepada masyarakat yang berangkat dari kebutuhan nyata mitra. Kolaborasi dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dan Manajemen memungkinkan penguatan keterampilan bahasa berjalan beriringan dengan pembentukan kemampuan mengelola diri.
Melalui program ini, UKMC berharap para siswa Seminari Menengah St. Paulus Palembang semakin siap menghadapi tantangan pendidikan dan kehidupan bersama, baik melalui kemampuan berkomunikasi secara efektif, penggunaan bahasa yang logis dan tepat, maupun pengelolaan diri yang bertanggung jawab.
Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, partisipatif, dan berorientasi pada pengembangan pribadi peserta didik secara utuh.
